SEJARAH PERKEMBANGAN MANUSIA; MENURUT AL-QUR’AN DAN ALKITAB

Oleh kurang sehat | August 12, 2008

Catatan sejarah yang menyatakan perkembangan penyebaran manusia dan peradaban melalui anak keturunan nabi Nuh jelas merupakan hal berbau alkitabiah. Alkitab memang menyatakan ‘keberpihakannya’ terhadap banjir besar di jaman nabi Nuh yang menghancurkan seluruh kehidupan di dunia (kecuali orang-orang yang ada diatas kapal) , setelah banjir selesai anak keturunan nabi Nuh menyebar keseluruh penjuru dunia berkembang menjadi manusia dan peradaban yang ada saat ini (Kejadian 10). Bahkan alkitab juga menyampaikan banjir tersebut bukan hanya melenyapkan seluruh umat manusia namun juga binatang, makanya bahtera nabi Nuh diisi oleh segala macam binatang, mulai dari gajah sampai cacing. Ketika banjir selesai, segala binatang yang ikut jadi penumpang tersebut menyebar ke seluruh dunia dan berkembang biak (Kejadian 8:17). Sejarah perkembangan manusia dari terciptanya manusia pertama, Adam dan Hawa berkembang secara linier dan tidak menyebar, hanya berkembang kepada kaum nabi Nuh. Ketika alkitab menceritakan Adam dan hawa diusir dari taman Eden yang berlokasi di sekitar Babilonia, Tuhan mengusir mereka kearah timur (Kejadian 3:24) lalu Adam dan Hawa beranak-pinak, disebut juga waktu itu anak-anak mereka sudah punyai profesi; Habel menjadi pengembala dan Kain jadi petani (Kejadian 4:2). Setelah Kain membunuh Habel (Kejadian 4:8) umat manusia berkembang melalui keturunan Kain (Kejadian 4:17-24) sampai kepada Tubal-kain dan Laama, namun alkitab tidak mencantumkan berapa lama rentang waktu antara Kain kepada Tubal-Kain dan Lamaa. Sampai disini perkembangan manusia lewat jalur Kain tidak diteruskan. Disisi lain, lewat jalur Adam dan Hawa manusia berkembang secara linier sampai kepada nabi Nuh dalam rentang waktu 1271 tahun (Kejadian 5). Dari kedua jalur tersebut ada 1 nama yang sama yaitu Enokh, tidak dijelaskan apakah itu merupakan orang yang sama atau tidak, kalaupun orangnya sama, maka jalur keturunan Adam dan Kain ‘bertemu untuk kembali berpisah’ lewat Enokh..

Ketika Tuhan akan menimpakan banjir besar terhadap manusia, alasan yang dikemukakan adalah karena Tuhan menyesal telah menciptakan manusia mengingat kejahatan yang dilakukan manusia ketika itu, dan akan menghapus mereka semua (Kejadian 6:5-7) , kecuali nabi Nuh (Kejadian 6:8). Setelah semuanya musnah, Tuhan lalu ‘berfirman dalam hati’ untuk tidak lagi mengutuk manusia dan akan menjaga bumi (Kejadian 8:21-22). Alkitab secara jelas menyatakan penyebaran umat manusia dimulai dari anak keturunan nabi Nuh (Kejadian 9:19, 10:32). Disini muncul pertanyaan : bagaimana nasibnya dengan anak keturunan Kain..?? apakah mereka menyebar juga ke seluruh dunia..?? apakah mereka ikut musnah dalam banjir besar..??. Pernyataan alkitab soal banjir besar yang meluluh-lantakkan semua makhluk di bumi dalam pernyataan yang jelas tentang manusia yang berkembang melalui anak-anak nabi Nuh memberikan kesan bahwa semua anak keturunan dari Kain ikut musnah dalam banjir besar.

Namun kita tidak bisa mengabaikan fakta tentang adanya temuan arkeologis, bahwa ternyata diluar kisah banjir nabi Nuh tersebut pada kurun waktu yang sama, ditemukan adanya peradaban lain yang masih berjalan. Peradaban Mesir dan Mesopotamia sudah dimulai sejak jaman Neolotikum (8000 – 7000 SM) dan masih terus berlanjut sampai pada masa setelah banjir besar (thn 4000 SM).

http://id.wikipedia.org/wiki/Timur_Tengah_Kuno

Di Indonesia sendiri juga ditemukan artefak peralatan pertanian dan berburu pada jaman yang sama, jauh sebelum anak keturunan nabi Nuh melalui rumpun bangsa Mongol beremigrasi ke wilayah Nusantara. Sekalipun saya tidak setuju dengan perkembangan manusia menurut teori evolusi Darwin, namun fakta-fakta tersebut tidak bisa kita abaikan hanya karena ingin menegakkan teori yang sangat dipengaruhi alkitab tersebut.

Sekarang kita bertanya, bagaimana Al-Qur’an memberikan ‘sinyal-sinyal’ berupa informasi tentang perkembangan peradaban umat manusia ini..?? Al-Qur’an juga memuat cerita tentang banjir besar nabi Nuh, namun tidak menyatakan keberpihakannya kepada banjir yang memusnahkan seluruh peradaban, bahkan memusnahkan seluruh binatang-binatang. Sudah disampaikan pada postingan sebelumnya kisah nabi Nuh terdapat pada 11 kelompok ayat Al-Qur’an, dan soal binatang yang naik ke bahtera, terdapat pada 2 kelompok ayat :

hattaa idzaa jaa-a amrunaa wafaara alttannuuru qulnaa ihmil fiihaa min kullin zawjayni itsnayni wa-ahlaka illaa man sabaqa ‘alayhi alqawlu waman aamana wamaa aamana ma’ahu illaa qaliilun
[11:40] Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit.

fa-awhaynaa ilayhi ani ishna’i alfulka bi-a’yuninaa wawahyinaa fa-idzaa jaa-a amrunaa wafaara alttannuuru fausluk fiihaa min kullin zawjayni itsnayni wa-ahlaka
[23:27] Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu,

‘min kullin zawjayni’ artinya ‘dari masing-masingnya sepasang’, namun terjemahan Al-Qur’an 11:40 kembali melakukan interpolasi ayat menjadi ‘masing-masing binatang sepasang’. Quraish Shihab terlihat membenarkan soal binatang ini, sebaliknya Sayyid Qutb, mengatakan bahwa menafsirkan kata ‘sepasang’ sebagai binatang adalah berbau Israilliyat, namun beliau tidak memberikan alternatifnya dan menganggap sebagai hal yang ghaib (Tafsir Fizhilalil Qur’an jilid 6). Temuan arkeologis menyatakan tidak ada pergerakan penyebaran binatang mulai dari gajah sampai tikus berasal dari satu tempat, maka hal ini juga tidak bisa kita abaikan untuk membenarkan penafsiran yang dipengaruhi alkitab (Kejadian 8:17) tersebut.

Al-Qur’an juga tidak menjelaskan soal adanya penyebaran manusia dan peradaban setelah banjir besar tersebut, ayat yang ‘dekat’ dengan hal tersebut berbunyi :

waja’alnaa dzurriyyatahu humu albaaqiina
[37:77] Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.

Ketika pikiran kita sudah dimasuki cerita alkitab soal nabi Nuh (Kejadian 10), maka ayat tersebut akan mengarahkan pikiran kita bahwa umat manusia memang tersebar bermula dari anak keturunan nabi Nuh, Sebenarnya ayat tersebut adalah ayat yang bersifat netral, karena kalau kita merujuk kepada ayat Al-Qur’an yang lain :

laqad arsalnaa nuuhan ilaa qawmihi
[7:59] Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya..

alam ya/tihim nabau alladziina min qablihim qawmi nuuhin wa’aadin watsamuuda waqawmi ibraahiima wa-ash-haabi madyana waalmu/tafikaati
[9:70] Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?

Ayat ini menjelaskan kesejajaran kaum nabi Nuh dengan kaum lainnya, sehingga QS [37:77] bisa juga diartikan maksud ‘melanjutkan keturunan’ adalah dalam lingkup kaum nabi Nuh sendiri, bukan menyatakan penyebarannya keseluruh penjuru dunia. Namun sekali lagi Al-Qur’an ‘bersikap netral’ dalam hal ini.

Kunci untuk mengetahui penyebaran peradaban ini sebenarnya ada pada sumber-sumber yang menjelaskan sejarah pada kurun waktu dari nabi Adam sebagai manusia pertama kepada nabi Nuh. Beberapa pendapat menyatakan bahwa jangka waktu antara nabi Adam dengan nabi Nuh sangatlah panjang melingkupi rentang ratusan ribu bahkan jutaan tahun, sehingga ketika jaman banjir besar nabi Nuh, umat manusia sudah tersebar keseluruh penjuru dunia, menjadi kelompok-kelompok primitif, lalu beradaptasi dengan alam lingkungannya. Ketika banjir besar nabi Nuh selesai dan anak keturunannya menyebar ke seluruh dunia. namun sekali lagi, ini bukanlah kesimpulan yang diambil dari Al-Qur’an, kebenaran teori ini mungkin akan bisa diungkapkan kemudian setelah makin banyaknya ditemukan artefak dan peninggal kuno yang akan membenarkan, ataupun mementahkannya.

Al-Qur’an sendiri tidak menjelaskan soal kurun waktu ini. Kisah nabi Nuh dan beberapa ‘sinyal’ sejarahnya merupakan kisah yang pertama dari umat manusia yang diceritakan Al-Qur’an secara lengkap. Memang terdapat 7 kelompok ayat yang menceritakan tentang kisah nabi Adam, QS [2:30-38, QS [7:11-30], QS[15:28-43], QS[17:61- 65], QS [18:50], QS[20:115-123], QS[38:71-85], namun sangat sedikit informasi tentang bagaimana kehidupan nabi Adam setelah diturunkan kedunia. Pengisahan tentang Adam dalam Al-Qur’an terfokus kepada : (1) pembangkangan Iblis dan ikrarnya untuk menjerumuskan manusia serta (2) informasi tentang penciptaan nabi Adam. Terdapat juga ayat lain tentang kehidupan manusia sebelum nabi Nuh, yaitu kisah tentang anak-anak nabi Adam QS[5:27-31] namun itupun tidak menginformasikan tentang lokasi ataupun penggambaran lingkungan, tidak seperti pengisahan nabi Nuh dan nabi-nabi lainnya. Al-Qur’an kelihatannya ‘membuka diri’ agar manusia melakukan penelitian sendiri tentang sejarah peradaban sebelum jaman nabi Nuh.

Terdapat satu ‘sinyal’ lagi yang diberikan Al-Qur’an tentang masa antara nabi Adam dam nabi Nuh ini, yaitu penyebutan adanya seorang nabi bernama Idris :

waudzkur fii alkitaabi idriisa innahu kaana shiddiiqan nabiyyaan warafa’naahu makaanan ‘aliyyaan ulaa-ika alladziina an’ama allaahu ‘alayhim mina alnnabiyyiina min dzurriyyati aadama wamimman hamalnaa ma’a nuuhin wamin dzurriyyati ibraahiima wa-israa-iila
[19:56] Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. [19:57] Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi. [19:58] Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni’mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil,

wa-ismaa’iila wa-idriisa wadzaa alkifli kullun mina alshshaabiriina wa-adkhalnaahum fii rahmatinaa innahum mina alshshaalihiina
[21:85] Dan (ingatlah kisah) Ismail, Idris dan Dzulkifli. Semua mereka termasuk orang-orang yang sabar. [21:86] Kami telah memasukkan mereka kedalam rahmat Kami. Sesungguhnya mereka termasuk orang-orang yang saleh.

Nabi Idris adalah nabi yang hidup sebelum jaman nabi Nuh, cerita alkitab mempengaruhi penafsiran bahwa Idris adalah Enokh (Kejadian 5). Sayyid Qutb menafsirkannya dengan nama salah satu tokoh Mesir kuno, yaitu Uzuris. Satu tokoh yang sama penggambarannya dengan Enokh, yang naik kelangit dan hidup disana, namun Sayyid Qutb tidak memastikan hal ini. Cerita Israilliyat ini kelihatannya mempengaruhi sementara ahli tafsir yang mengatakan bunyi QS 19:57 diartikan secara harfiah. Sumber-sumber Islam sendiri tidak banyak memberikan penjelasan tentang nabi Idris ini, ada satu hadist riwayat ath-Thabarani melalui Ummu Salamah yang menyatakan nabi Idris berteman dengan malaikat maut dan memasuki neraka dan surga ketika masih hidup. Namun perawi hadist ini terdapat nama Ibrahim Ibn Abdullah al-Mashishi, yang dikategorikan oleh para peneliti hadist sebagai pembohong dan pendusta.

Sebenarnya kita bisa bertanya-tanya : Apa maksud Al-Qur’an yang menyatakan bahwa nabi Idris adalah ‘seorang yang sangat membenarkan’..?? Ketika sahabat Rasulullah, Abu Bakar dijuluki ’siddiq’ - orang yang membenarkan, objeknya jelas yaitu Rasulullah sendiri, yaitu Abu bakar adalah sahabat yang selalu membenarkan apapun pernyataan yang dikeluarkan Rasulullah, termasuk cerita nabi tentang perjalanan Isra’Mi’raj-nya, ketika banyak orang, bahkan umat Islam lain yang meragukannya, Abu Bakar tanpa ‘pikir panjang’ membenarkannya. Mengapa Al-Qur’an memberikan penekanan sifat ini kepada nabi Idris..?? apa atau siapa yang telah dibenarkan olehnya..?? Ini mungkin sinyal yang diberikan Al-Qur’an untuk mencari hubungan adanya cerita nabi Nuh dengan fakta arkeologis tentang kelompok manusia yang sudah menyebar ketika itu…wallahualam…

By : Ridwan

Topik: | Tidak ada komentar »

BERATNYA MENJADI SEORANG LAKI LAKI

Oleh Departemen Media ROHIS46 | August 12, 2008

Ikhlas
Tahukan anda bila sebagai seorang :…
LELAKI
Betapa beratnya menjadi seorang lelaki, diantaranya adalah seperti
berikut:
1. Lelaki bujangan menanggung dosa sendiri apabila sudah baligh,
sementara dosa anak gadis ditanggung oleh bapanya.
2. Lelaki yang sudah berumah tangga menanggung dosa sendiri, dosa
isteri, dosa anak perempuan yang belum pernah kawin dan dosa anak lelaki
yang belum baligh.
3. Hukum menjelaskan anak lelaki bertanggung- jawab atas ibunya dan
sekiranya dia tidak menjalankan tanggungjawabnya maka dosa baginya,
terutama anak lelaki yang tua, tetapi perempuan tidak, perempuan hanya
perlu taat kepada suaminya. Isteri berbuat baik kepadanya diberikan
pahala kalau berbuat sebaliknya dosanya ditanggung oleh suaminya.
4. Suami wajib memberikan nafkah pada isteri, tapi isteri tidak.
Walaupun begitu isteri boleh membantu. Haram bagi suami bertanya
pendapatan isteri, lebih-lebih lagi menggunakan pendapatan isteri tanpa
izin ini.
Banyak lagi…
Bayangkan betapa beratnya dosa-dosa yang harus ditanggung seperti gunung
dengan semut. Itu sebabnya mengikut kalau kita kaji nyawa perempuan
lebih panjang daripada lelaki. Lelaki mati cepat karena tak kuat dengan
beratnya dosa-dosa yang ditanggung. Tetapi seorang lelaki ada
keistimewaannya yang dianugerah oleh Allah SWT. Sebagai seorang lelaki
pasti anda tahu, kalau tak tahu makanya jadi perempuan. Begitulah
kira-kiranya.
WANITA
1. Wanita auratnya lebih susah dijaga dibanding lelaki.
2. Wanita perlu meminta izin dari suaminya apabila mau keluar rumah,
tetapi tidak sebaliknya.
3. Wanita kesaksianya kurang dibanding lelaki.
4. Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki.
5. Wanita perlu menghadapi kesusahan mengandung dan melahirkan anak.
6. Wanita wajib taat kepada suaminya.
7. Talak terletak di tangan suami dan bukan isteri.
8. Wanita kurang dalam beribadat karena masalah haid dan nifas yang tak
ada pada lelaki.
Pernahkah kita lihat sebaliknya??
Wanita perlu taat kepada suami tetapi lelaki wajib taat kepada ibunya 3
kali lebih utama dari bapanya. Bukankah ibu adalah seorang wanita?
Wanita menerima pusaka kurang dari lelaki tetapi harta itu menjadi milik
pribadinya dan tidak perlu diserahkan kepada suaminya, manakala lelaki
menerima pusaka perlu menggunakan hartanya untuk isteri dan anak anak.
Wanita perlu bersusah payah mengandung dan melahirkan anak, tetapi
setiap saat dia didoakan oleh segala malaikat dan seluruh makhluk ALLAH
di muka bumi ini, dan bila wafat kerana melahirkan adalah mati syahid.
Manakala dosanya dosa kecil, dosanya diampun ALLAH .
Di akhirat kelak, seorang lelaki akan dipertanggungjawabk an terhadap 4
wanita ini :
1. Isterinya
2. Ibunya
3. Anak perempuannya
4. Saudara perempuannya.
Manakala seorang wanita ditanggung oleh 4 orang lelaki ini :
1. Suaminya
2. Ayahnya
3. Anak lelakinya
4. Saudara lelakinya.
Seorang wanita boleh memasuki pintu Syurga melalui mana pintu Syurga
yang disukainya cukup dgn 3 syarat saja:
- Sembahyang 5 waktu,
- Puasa di bulan Ramadhan,
- Taat pada suaminya dan menjaga kehormatannya. (betulkan kalau nggak
salah).
Seorang lelaki perlu pergi berjihad fisabilillah tetapi wanita jika taat
akan suaminya serta menunaikan tanggung jawabnya kepada ALLAH akan turut
menerima pahala seperti pahala orang pergi berperang fisabilillah tanpa
perlu mengangkat senjata.
Masya ALLAH…
Lihat betapa sayangnya ALLAH pada wanita …. .kan?

By : Ridwan

Topik: , , , | Tidak ada komentar »

KISAH MALAIKAT JIBRIL DAN MALAIKAT MIKAIL MENANGIS

Oleh Departemen Media ROHIS46 | April 10, 2008

Dalam sebuah kitab karangan Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa iblis itu sesungguhnya namanya disebut sebagai al-Abid (ahli ibadah) pada langit yang pertama, pada langit yang keduanya disebut az-Zahid. Pada langit ketiga, namanya disebut al-Arif. Pada langit keempat, namanya adalah al-Wali. Pada langit kelima, namanya disebut at-Taqi. Pada langit keenam namanya disebut al-Kazin. Pada langit ketujuh namanya disebut Azazil manakala dalam Luh Mahfudz, namanya ialah iblis.
Dia (iblis) lupa akibat urusannya. Maka Allah S.W.T telah memerintahkannya sujud kepada Adam. Lalu iblis berkata, “Adakah Engkau mengutamakannya daripada aku, sedangkan aku lebih baik daripadanya. Engkau jadikan aku daripada api dan Engkau jadikan Adam daripada tanah.”

Lalu Allah S.W.T berfirman yang maksudnya, “Aku membuat apa yang aku kehendaki.” Oleh kerana iblis memandang dirinya penuh keagungan, maka dia enggan sujud kepada Adam A.S kerana bangga dan sombong.
Dia berdiri tegak sampai saatnya malaikat bersujud dalam waktu yang berlalu. Ketika para malaikat mengangkat kepala mereka, mereka mendapati iblis tidak sujud sedang mereka telah selesai sujud. Maka para malaikat bersujud lagi bagi kali kedua kerana bersyukur, tetapi iblis tetap angkuh dan enggan sujud. Dia berdiri tegak dan memaling dari para malaikat yang sedang bersujud. Dia tidak ingin mengikut mereka dan tidak pula dia merasa menyesal atas keengganannya.

Kemudian Allah S.W.T merubahkan mukanya pada asalnya yang sangat indah cemerlangan kepada bentuk seperti babi hutan. Allah S.W.T membentukkan kepalanya seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung, wajah yang ada di antara dada dan kepala itu seperti wajah kera, kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya. Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Setelah itu, lalu Allah mengusirnya dari syurga, bahkan dari langit, dari bumi dan ke beberapa jazirah. Dia tidak akan masuk ke bumi melainkan dengan cara sembunyi. Allah S.W.T melaknatinya sehingga ke hari kiamat kerana dia menjadi kafir. Walaupun iblis itu pada sebelumnya sangat indah cemerlang rupanya, mempunyai sayap emapt, banyak ilmu, banyak ibadah serta menjadi kebanggan para malaikat dan pemukanya, dan dia juga pemimpin para malaikat karubiyin dan banyak lagi, tetapi semua itu tidak menjadi jaminan sama sekali baginya.

Ketika Allah S.W.T membalas tipu daya iblis, maka menangislah Jibril A.S dan Mikail. Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud, “Apakah yang membuat kamu menangis?” Lalu mereka menjawab, “Ya Allah! Kami tidaklah aman dari tipu dayamu.”
Firman Allah bagi bermaksud, “Begitulah aku. Jadilah engkau berdua tidak aman dari tipu dayaku.”
Setelah diusir, maka iblis pun berkata, “Ya Tuhanku, Engkau telah mengusir aku dari Syurga disebabkan Adam, dan aku tidak menguasainya melainkan dengan penguasaan-Mu.”

Lalu Allah berfirman yang bermaksud, “Engkau dikuasakan atas dia, yakni atas anak cucunya, sebab para nabi adalah maksum.”
Berkata lagi iblis, “Tambahkanlah lagi untukku.” Allah berfirman yang maksudnya, “Tidak akan dilahirkan seorang anak baginya kecuali tentu dilahirkan untukmu dua padanya.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Lalu Allah berfirman dengan maksud, “Dada-dada mereka adalah rumahmu, engkau berjalan di sana sejalan dengan peredaran darah.”
Berkata iblis lagi, “Tambahkanlah lagi untukku.” Maka Allah berfirman lagi yang bermaksud, “Dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki, ertinya mintalah tolong menghadapi mereka dengan pembantu-pembantumu, baik yang naik kuda mahupun yang berjalan kaki. Dan berserikatlah dengan mereka pada harta, iaitu mendorong mereka mengusahakannya dan mengarahkannya ke dalam haram.”

“Dan pada anak-anak, iaitu dengan menganjurkan mereka dalam membuat perantara mendapat anak dengan cara yang dilarang, seperti melakukan senggama dalam masa haid, berbuat perkara-perkara syirik mengenai anak-anak itu dengan memberi nama mereka Abdul Uzza, menyesatkan mereka dengan cara mendorong ke arah agama yang batil, mata pencarian yang tercela dan perbuatan-perbuatan yang jahat dan berjanjilah mereka.” (Hal ini ada disebutkan dalamsurah al-Isra ayat 64 yang bermaksud : “Gerakkanlah orang yang engkau kuasai di antara mereka dengan suara engkau dan kerahkanlah kepada mereka tentera engkau yang berkuda dan yang berjalan kaki dan serikanlah mereka pada harta dan anak-anak dan berjanjilah kepada mereka. Tak ada yang dijanjikan iblis kepada mereka melainkan (semata-mata) tipuan.”

Topik: | Tidak ada komentar »

« Catatan Sebelumnya Catatan Berikutnya »